“Kenapa sih Kita Harus Berpuasa??? Kenapaa??”

CERITANYA BEGINI:

Bulan ramadhan merupakan bulan mulia dimana umat muslim di seluruh dunia menyambutnya dengan suka cita. Di bulan penuh berkah ini pula kita sebagai orang tua seharusnya memanfaatkan momen ini sebagai ajang melatih anak untuk belajar kejujuran dan empati.

Sejak puasa pertama hingga Jumat kemarin, putra sulung saya, Danish (8) sudah bisa berpuasa full hingga magrib meskipun di hari pertama puasanya ia sempat ngambek karena ingin buka puasa.

Sabtu kemarin saat saya berada di rumah, ternyata Danish tak kuasa menahan godaan. Siang itu pukul 13.00 saat Danish asyik bermain PS, Darielle (3) adiknya, minta dibukakan permen. Tanpa sadar (mungkin juga disengaja) Danish ikut memakan permen adiknya itu.

Sesaat ia tersadar bahwa dirinya sudah mencicipi permen adiknya, Danish berlari mencari saya. Ia katakan bahwa ia sudah membatalkan puasanya dengan mencicipi permen adiknya. Saya kaget sekali. Padahal seminggu kemarin tak ada masalah walaupun adiknya makan jajanan apapun di hadapannya.

Kemudian saya tanyakan pada Danish bila ia memang tak sengaja, ia boleh melanjutkan puasanya. Namun Danish bilang bahwa ia sudah tidak tahan ingin makan karena lapar. Ditambah lagi ia buru-buru minum. Melihat itu, saya tak lagi bisa berkata apa-apa. Setelah itu Danish pun minta makan siang.

Saat ia sedang lahap menghabiskan makannya, ia bertanya “kenapa sih Ma kita harus berpuasa?” Sebenarnya pertanyaan itu sudah seringkali Danish tanyakan. Hanya saja ia masih belum memahami betul mengapa ia harus menahan lapar dan haus.

Saya jelaskan pada Danish bahwa puasa sebagai salah satu bentuk ibadah kita kepada Allah. Sama seperti kita sholat. Sama-sama memiliki nilai pahala. Puasa ini untuk Allah. Allah yang mengetahui apakah Danish jujur berpuasa ataukah pura-pura berpuasa padahal tidak puasa. Puasa juga melatih kita belajar kejujuran. Siapapun tidak akan tahu seseorang itu berpuasa atau tidak. Hanya dia dan Allah lah yang tahu.

Hikmah puasa lainnya adalah kita belajar berempati terhadap kesulitan hidup orang lain. Dengan berpuasa kita akan ikut merasakan bagaimana perihnya perut yang lapar dan haus. Banyak orang yang tidak beruntung dalam hidupnya sehingga mereka kesulitan mencari sesuap nasi. Itulah mengapa mengapa kita tidak boleh membuang makanan karena di luar sana masih banyak orang-orang yang kelaparan.

Dengan berpuasa, kita juga belajar bersyukur karena Allah telah memberikan rizki kepada kita karena hidup kita masih beruntung karena bisa mencicipi makanan enak kapanpun kita mau. Namun di bulan puasa, kita dilatih untuk menahan diri selama beberapa waktu dari rasa nikmat mencicipi makanan tersebut hingga waktu berbuka tiba.

Mendengar penjelasan saya yang lumayan panjang, Danish termangu. Ia seperti menyesal telah membatalkan puasanya. Namun saya salut pada Danish karena ia sudah berani jujur mengatakan bahwa ia sudah mencicipi permen adiknya. Ia juga terus terang bilang bahwa ia sudah tak mampu menahan lapar dan haus.

Saya pernah mendengar cerita dari ibu saya tentang teman masa kecilnya, sewaktu berpuasa dulu temannya itu diam-diam minum dan makan. Saat ditanya orang tuanya apakah ia masih berpuasa, ia menjawab masih berpuasa. Padahal yang terjadi ia diam-diam sudah makan dan minum.

Semoga esok hari Danish bisa lebih memantapkan hatinya untuk berpuasa dan lebih memahami apa makna puasa baginya sehingga ia bisa menunaikannya dengan senang hati tanpa merasa terbebani.

Cr: http://edukasi.kompasiana.com/2012/07/29/kenapa-sih-kita-harus-berpuasa/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s